Mengenal Gangguan Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

Reportase Bayang Reka Television

Gangguan obsesif kompulsif atau yang lebih dikenal dengan singkatan OCD adalah kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. Gangguan ini merupakan penyakit jangka panjang seperti halnya tekanan darah tinggi maupun diabetes.

 

Kelainan ini ditandai dengan pikiran dan ketakutan tidak masuk akal (obsesi) yang dapat menyebabkan perilaku repetitif (kompulsi). Misalnya, orang yang merasa harus memeriksa pintu dan jendela lebih dari 3 kali sebelum keluar rumah.

 

Jumlah pasti penderita OCD sulit diketahui karena para penderita umumnya enggan ke dokter. Tetapi Anda tidak perlu malu dan menutupinya jika mengalami OCD karena langkah-langkah terapi yang tepat terbukti efektif untuk menanganinya.

Hasil Penelitian Lembaga Kajian Ilmiah Grahita Indonesia yang dilakukan pada tahun 2007, menunjukkan bahwa 0.48% masyarakat Indonesia mengalami gangguan OCD. Itu berarti bahwa dari 1000 orang Indonesia akan terdapat minimal 4 penderita gangguan OCD, dan 94% persen penderitanya adalah usia remaja.

Gejala yang dialami oleh tiap penderita OCD memang berbeda-beda. Ada yang ringan di mana penderita biasanya akan menghabiskan sekitar 1 jam hanya bergelut dengan pikiran obsesif dan perilaku kompulsifnya, tapi ada juga yang parah hingga gangguan ini menguasai dan mengendalikan hidupnya.

 

Penderita OCD pada umumnya akan menjadi terpuruk dalam pola pikiran dan perilaku tertentu. Terdapat 4 tahap utama dalam kondisi OCD, yaitu obsesi, kecemasan, kompulsi, dan kelegaan sementara.

 

Obsesi muncul saat pikiran penderita terus dikuasai oleh rasa takut atau kecemasan. Kemudian obsesi dan rasa kecemasan akan memancing aksi kompulsi di mana penderita akan melakukan sesuatu agar rasa cemas dan tertekan berkurang.

 

Perilaku kompulsif tersebut akan membuat penderita merasa lega untuk sementara. Namun obsesi serta kecemasan akan kembali muncul dan membuat penderita mengulangi pola itu.

 

Walau belum berhasil diketahui secara pasti apa penyebab utama gangguan OCD, meski demikian, banyak penelitian yang telah dilakukan untuk menganalisis sejumlah faktor pemicu yang dapat meningkatkan risiko OCD.

 

Di antaranya adalah:

 

Faktor genetika.  Ada bukti yang menunjukkan bahwa gangguan ini berhubungan dengan gen tertentu yang memengaruhi perkembangan otak.

Ketidaknormalan pada otak. Hasil penelitian pemetaan otak memperlihatkan adanya ketidaknormalan pada otak penderita OCD yang melibatkan serotonin yang tidak seimbang. Serotonin adalah zat penghantar yang digunakan otak untuk komunikasi di antara sel-selnya.

Ada satu catatan hasil penelitian LPKI Grahita Indonesia bahwa Orang yang rapi, teliti, serta memiliki disiplin tinggi cenderung memiliki risiko lebih besar untuk mengalami gangguan OCD.

Dalam penelitian tersebut juga ditemukan adanya beberapa kasus OCD yang terbukti merupakan dampak dari faktor Trauma atau kejadian penting dalam hidup seseorang.

 

Tingkat pengobatan OCD akan sangat bergantung kepada sejauh apa dampak OCD yang Anda alami dalam kehidupan Anda. Ada beberapa langkah dalam penanganan OCD, yaitu:

 

Terapi perilaku kognitif (CBT). Terapi ini dapat membantu Anda untuk mengurangi kecemasan dengan mengubah cara pikir dan perilaku Anda.

Penggunaan obat-obatan untuk mengendalikan gejala yang Anda alami.

 

Mencari bantuan medis adalah hal terpenting bagi penderita OCD karena mereka memiliki kemungkinan untuk sembuh atau setidaknya untuk menikmati hidup dengan mengurangi gejalanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s