Mengenal Sindrom Aspergers pada Anak

Reportase Bayang Reka Television

Sindrom Asperger (SA) merupakan salah satu gangguan yang terjadi pada perkembangan anak. Dari sindrom yang satu ini akan muncul adanya pengaruh terhadap kemampuan komunikasi dan juga sosialisasi anak. Dimana anak laki-laki 3 hingga 4 kali lebih beresiko untuk terkena gangguan ini jika dibandingkan dengan anak perempuan.

Sindrom Aspergers dapat dikenali dari beberapa gejala yang ditimbulkan antara lain adanya gangguan  sosialisasi, komunikasi, saraf sensorik dan motorik.

Anak dengan sindrom Aspergers memiliki kecenderungan untuk hanya berbicara tentang hal-hal yang sedang diminatinya, tanpa pernah memperdulikan apakah lawan bicaranya tertarik atau tidak, dan biasanya anak dengan sindrom ini cenderung tidak faham tentang komunikasi non verbal seperti halnya ekspresi dan bahasa tubuh, dan sangat jarang melakukan kontak mata.

Anak dengan gangguan ini, cenderung obsesif terhadap hal-hal yang spesifik, seperti misalnya daftar isi buku, daftar menu, dan lain sebagainya, dan nada suara ketika berbicara amat datar, monoton, formal dengan tempo yang tidak konsisten, sehingga menyebabkannya kurang mampu untuk berkomunikasi dua arah. Para penyandang gangguan ini lebih sering menginstruksi dan memotong pembicaraan dalam berkomunikasi.

Hasil penelitian LPKIGI menunjukkan bahwa jumlah penyandang sindrom aspergers di Indonesia bergerak dalam kisaran interval 3,2 – 5,1% dari populasi, yang berarti dari 100 populasi penduduk Indonesia akan ditemukan minimal 3 orang penyandang sindrom aspergers.

Dalam berjalannya waktu, sindrom aspergers sering didakwa sebagai sindrom autis, padahal kedua sindrom ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan, walaupun ada beberapa gejala yang relatif sama.

Dunia kedokteran  melihat sindrom Asperger sebagai sebuah bentuk autisme, dan menyebutnya sebagai “autisme yang memiliki banyak fungsi/high-functioning autism”. Beberapa persamaan gejala antara kedua sindrom tersebut, sering kali membuat masyarakat menjadi rancu dalam menyebutkannya.

Sindrom ini ditemukan oleh Hans Asperger, seorang dokter anak asal Austria pada tahun 1944, meskipun baru diteliti dan diakui secara luas oleh para ahli pada dekade 1980-an. Sindrom Asperger dibedakan dengan gejala autisme lainnya dilihat dari kemampuan linguistik dan kognitif para penderitanya yang relatif tidak mengalami penurunan, bahkan dengan IQ yang relatif tinggi atau rata-rata (ini berarti sebagian besar penderita sindrom Asperger bisa hidup secara mandiri, tidak seperti autisme lainnya). Sindrom Asperger juga bukanlah sebuah penyakit mental.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s