Mengenal Gangguan Bepolar

Reportase Bayang Reka Television

Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrem berupa mania dan depresi, karena itu istilah medis sebelumnya disebut dengan manic depressive. Suasana hati penderitanya dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang berlebihan tanpa pola atau waktu yang pasti.

Setiap orang pada umumnya pernah mengalami suasana hati yang baik (mood high) dan suasana hati yang buruk (mood low). Akan tetapi, seseorang yang menderita gangguan bipolar memiliki ayunan perasaan (mood swings) yang ekstrem dengan pola perasaan yang mudah berubah secara drastis.

Suatu ketika, seorang pengidap gangguan bipolar bisa merasa sangat antusias dan bersemangat (mania). Saat suasana hatinya berubah buruk, ia bisa sangat depresi, pesimis, putus asa, bahkan sampai mempunyai keinginan untuk bunuh diri. Suasana hati meningkat secara klinis disebut sebagai mania, atau di saat ringan disebut hipomania.

Berdasarkan data Survey Pusat Kajian Ilmiah Grahita Indonesia pada tahun 2010 di Indonesia, penderita gangguan bepolar di Indonesia berkisar dalam interval antara 4 – 6,3% dari populasi, yang berarti bahwa dari 100 penduduk Indonesia akan ditemukan minimal 4 penderita gangguan bepolar

Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 60 juta orang terkena bipolar. Data Riskesdas 2013 memunjukkan prevalensi ganggunan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk.

Secara umum ada berbagai jenis gangguan bepolar, yakni gangguan bepolar type 1, gangguan bepolar type 2, gangguan bepolar type campuran, gangguan siklotimik, dan berbagai gangguan bepolar akibat kondisi medik dan induksi zat. Penderita gangguan bepolar type 1 adalah gangguan bepolar yang umum terjadi, dimana penderita cenderung mengalami situasi manic depresif, baik dengan episode yang berbeda dan atau yang terjadi secara bersamaan waktu atara kondisi mania dan kondisi depresif yang terjadi.

Secara prevalensi, baik pria maupun wanita di Indonesia memiliki perbandingan yang sama, yaitu satu persen. Sementara itu, prevalensi GB II lebih tinggi 0,1 persen dari GB I yang berjumlah satu persen.

Individu yang mengalami episode mania juga sering mengalami episode depresi, atau episode campuran di saat kedua fitur mania dan depresi hadir pada waktu yang sama. Episode ini biasanya dipisahkan oleh periode suasana hati normal, tetapi dalam beberapa depresi individu dan mania mungkin berganti dengan sangat cepat yang dikenal sebagai rapid-cycle. Episode manik ekstrem kadang-kadang dapat menyebabkan gejala psikosis seperti delusi dan halusinasi. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara dua minggu sampai lima bulan. Sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama. Episode hipomanik mempunyai derajat yang lebih ringan daripada manik. Gangguan bipolar dibagi menjadi bipolar I, bipolar II, cyclothymia, dan jenis lainnya berdasarkan sifat dan pengalaman tingkat keparahan episode suasana hati; kisaran sering digambarkan sebagai spektrum bipolar.

Insiden gangguan bipolar berkisar antara 0,3% – 1,5% yang persentasenya tergolong rendah jika dibandingkan dengan persentase insiden yang dikategorikan skizofrenia. Gangguan bipolar saat ini sudah menjangkiti sekitar 10 hingga 12 persen remaja di luar negeri. Di beberapa kota di Indonesia juga mulai dilaporkan penderita berusia remaja. Risiko kematian terus membayangi penderita gangguan bipolar, dan itu lebih karena mereka mengambil jalan pintas.

 

Episode pertama gangguan bepolar bisa timbul mulai dari masa kanak-kanak sampai tua. Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang menderita gangguan bipolar, risiko penyakit akan lebih berat, berkepanjangan, bahkan sering kambuh. Sementara anak-anak berpotensi mengalami perkembangan gangguan ini ke dalam bentuk yang lebih parah dan sering bersamaan dengan gangguan hiperaktif defisit atensi. Orang yang berisiko mengalami gangguan bipolar adalah mereka yang mempunyai anggota keluarga mengidap gangguan bipolar.

Terapi medik menjadi solusi bagi penyembuhan gangguan bepolar. Obat-obatan yang digunakan untuk gangguan bipolar adalah obat golongan mood stabilizer. Kerja obat ini adalah untuk menekan perubahan mood antara manik dan depresi. Obat-obatan mood stabilizer antara lain terdiri dari mineral seperti litium, dan anti-konvulsan. Sejauh ini hanya obat-obatan tersebut yang memberikan dampak untuk pengobatan gangguan bipolar. Menurut Nurmiati, belum ada obat-obatan herbal untuk mengatasi gangguan bipolar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s